Saturday, February 27, 2010

Budaya Bersalaman

Kembali lagi saya posting dongeng, jangan heran kenapa harus tengah malam nulisnya, karena jam segini lah justru ide liar untuk ngahiwal sekali lagi tercetus : )
Membuat cerita si umar kadang susah-susah gampang, diperlukan banyak recall memory, pencarian data kepada para sumber, imajinasi yang tinggi serta pembuatan hak cipta kepada yang empunya cerita. Sekali lagi walaupun cerita ini based on true story tp bila ada kesamaan tokoh, tempat atau cerita itu hanya kebetulan belaka dan bila kebetulan bukan berarti sebuah pencemaran nama baik atau pembunuhan karakter yang selama ini sering terdengar diberita-berita tv jadi diharapkan cerita ini tidak berbuntut panjang seperti kasus prita tetapi lebih baik tidak berbuntut saja seperti manusia. Daripada ngalor ngidul mending kita kembali ke umar saja..
Setting cerita ini adalah ketika umar mengenyam bangku kuliah (untuk sekedar informasi umar bukan rayap, rayap : binatang serangga pemakan kayu. red) di kota indah Parisj van Java. Umar berasal dari kota resik, kota indah yang berada kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil ke sebelah selatan Parisj van Java. Karena jauh dari kota asal maka umar ngekost Parisj van java yg biasa disebut kota kembang ini. Di kota kembang umar terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Surya Sumantri (USS) sebagai calon tukang insinyur listrik.
Suatu hari ketika tidak sedang ada jadwal kuliah umar berkeliling kota bandung bersama kawan karibnya tohir. Tohir adalah mahasiswa USS juga asal satu kota dengan umar dan dia adalah calon insinyur bangunan tapi bukan kuli bangunan. Umar dan tohir berkeliling kota kembang di siang hari dengan mengendarai motor bebek kesayangan umar. Tujuannya adalah tak lain untuk cuci mata keliling kota naik motor roda dua trek dung tralala.. Ketika dalam perjalanan tiba2 didekat suatu perempatan tampak rombongan Polisi sedang melakukan razia, razia ini adalah razia lalu lintas dan bukan razia narkoba atau dsbnya. Kebetulan persyaratan dan perlengkapan umar lengkap yaitu sim dan stnk ada, spion 2, lampu nyala semua, helm standar depan belakang dan knalpot pun gak bising, pokoknya mah safety ridding lah. Memang umar ini tergolong anak yg bersahaja dan patuh aturan sehingga segala sesuatu pasti dia lengkapi dengan penuh tanggung jawab. Melihat kumpulan polisi yg sedang
razia umar tidak gentar dan melaju dengan tenang. Tiba2 seorang polisi lalu lintas memberhentikan umar dan menyuruhnya menepi. Tanpa takut dan hanya menganggap ini adalah prosedur biasa umar yang sedang memboncengi tohir menepikan motornya. pak polisi kemudian menghampiri, kemudian hormat sambil mengucapkan selamat siang lalu menyodorkan tangannya dengan maksud untuk meminta sim dan stnk umar. Tanpa sepatah kata pun dan dengan ramah umar menjawab salaman polisi tadi dengan salaman yang hangat. Pak polisi pun sempat terkaget2 sejenak karena dia meminta sim dan stnk tp dijawab dengan salaman. Mungkin polisi ini pun heran dan mungkin juga kagum dengan keramahan umar. Setelah salaman baru pak polisi bilang "maaf pak, tolong perlihatkan sim dan stnk nya" sambil kembali menyodorkan tangannya. Dan diperlihatkan sim dan stnknya, setelah selesai pemeriksaan maka diperbolehkan umar jalan kembali. Tak lama kemudian tohir berkata pada umar "mar, tadi teh pulisina
menta sim, maneh mah kalahkah diajak salaman hah (Mar, td polisi itu minta sim, tapi kok kamu malah menyalami polisi itu???)". Dan umar pun baru tersadar ternyata uluran tangan tadi adalah minta sim dan stnk, bukan mengajak salaman dan dengan tersenyum bilang "heeuh poho hehehe (iya, lupa hehehehe)"

Pelajaran moral dari cerita ini : kadang komunikasi verbal lebih baik daripada komunikasi non verbal, kadang komunikasi non verbal selalu disalah artikan. Tapi yang penting tidak ada salahnya memberikan salaman hangat kepada orang (asal jangan tiap orang aja kita salami, bisi disangka rada kurang saeutik)

Hidup umar.... To be continue

No comments:

Post a Comment