Friday, September 4, 2009

Difteri


Saya jadi teringat kira-kira 1 minggu yang lalu saya mendapatkan sebuah pengalaman yang berharga buat saya. Kebetulan kira-kira pertengahan bulan Agustus lalu saya pindh tugas ke Puskesmas Tanjung Balai yang mempunyai IGD dan rawat inap, sebelumnya saya dinas di Puskesmas Tebing yang tidak ada tempat perawatan, karena Puskesmas Tanjung Balai membutuhkan tenaga maka saya di nota dinas ke tempat tersebut.
Karena ada perawatan dan IGD maka ditempat ini saya diharuskan untuk jaga malam, sudah hampir 1 tahun lebih saya tidak jaga malam sehingga agak lupa-lupa ingat juga (Tahun lalu saya pernah mitra di RS Timah). Hari itu kebetulan jaga perdana saya, pasiennya sih tidak banyak hanya saja kadang agak parah juga, maklumlah orang daerah sini terutama mereka yang miskin dan tidak terdaftar jamkesmas biasanya membiarkan sakitnya sampai berlarut-larut hingga parah dan hampir fatal.
Waktu itu kira-kira pukul 7 pagi, hampir jam pulang karena waktu jaga sampai jam 8 pagi untuk ganti shift, datang seorang ibu dengan membawa anak sekitar umur 7 tahun dengan digendong karena anak tersebut terlihat lemas dan sianosis, saya langsung periksa ternyata badan anak tersebut sudah dingin, langsung saya kasih oksigen pada waktu itu. Saya tanya sedikit pada yang antar (ternyata itu bibinya, ibunya ada di luar menangis tidak mau masuk karena menyesali anaknya sudah seperti itu), mereka bercerita kalau anak ini sudah 1 minggu sakit dan 3 hari yang lalu demam tinggi, sudah dibawa ke klinik dekat rumahnya (klinik tersebut milik seorang perawat yang tidak memiliki ijin klinik) tapi tidak ada perubahan dan pagi itu baru dibawa ke puskesmas. Saya periksa di paru-parunya ada ronchi, anak ini juga terlihat sesak, yang waktu itu saya lewatkan adalah adanya bull neck.. jujur saja waktu itu saya hanya terlintas dia juga terkena parotitis, rongga mulut dan faring tidak sempat saya periksa juga karena saya langsung rujuk dengan ambulans Puskesmas ke RSUD Karimun.. waktu itu saya curiga mungkin ini pneumonia berat maka di surat rujukan saya diagnosis sementara susp Pneumonia berat + Bull Neck?? Setelah itu dibawalah anak tersebut ke RSUD dan saya pun pulang kerumah untuk istirahat.
Tiga hari kemudian, Kepala Puskesmas bercerita kepada saya tentang pasien tersebut (kebetulan waktu pagi kemarin pas anak itu dirujuk, Kepala Puskesmas juga ada di IGD). Dia bilang anak yang kemarin saya rujuk sudah meninggal, menurut dokter anak disana itu Difteri...

"Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae (C. diphtheriae). Penyakit ini menyerang bagian atas mukosa saluran pernapasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit tekak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernapasan."
Pembawa kuman ini adalah manusia sendiri dan amat sensitif pada faktor-faktor alam sekitar seperti kekeringan, kepanasan dan sinar matahari. Difteri disebarkan dari kulit, saluran pernapasan dan sentuhan dengan penderita difteri itu sendiri. Tingkat kematian akibat difteri paling tinggi di kalangan bayi dan orang tua dan kematian biasanya terjadi dalam masa tiga hingga empat hari.

Saya kaget juga, memang saya pernah belajar teori Difteri dan seumur-umur saya balum pernah lihat kasus tersebut,di daerah saya juga jarang terjadi kasus itu. memang sih kesalahan saya tidak memeriksa detail kedalam tenggorokannya karena pada waktu itu dipikiran saya adalah cepat-cepat dirujuk ke RSUD agar mendapatkan pertolongan yang lebih baik. Di RSUD anak ini di konsul ke dokter bedah dan dilakukan tracheostomy (karena didaerah saya tidak ada spesialis THT) dan keluar banyak nanah, menurut laporan dilakukan juga pemeriksaan kuman di pseudomembran tapi hasil yang didapat adalah kuman gram negatif. Kalo memang Corynebaterium diptheriae penyebabnya harusnya hasilnya gram positif. Hal ini memang membingungkan karena kita harus memastikan itu adalah difteri untuk dilakukan pencegahan. Kalo menurut saya setelah mendengar cerita tersebut dan mengingat kondisi pasien waktu itu dan menurut buku teori dan pedoman penatalaksanan yang saya baca lagi, saya sependapat itu difteri. Tapi Kepala Puskesmas saya masih belum setuju karena hasil lab yang keluar, sampai beliau bertanya kepada rekannya yang kebetulan sudah spesialis anak dan sering mendapatkan difteri akhirnya beliau setuju juga karena selama ini pemeriksaan kuman apalagi gram sering negatif karena banyak faktor yang berpengaruh, bagusnya memang dibiakan tapi sayang samplenya sudah dibuang dan anaknya juga sudah meninggal.

Selama ini memang saya pernah baca dibuku dan sering juga adakan penyuluhan tentang difteri tapi saya miss diagnosis juga ketika dapat karena seumur-umur saya belum lihat. Tapi untungnya saya tidak melakukan hal yang fatal dan dokter RSUD pun tidak menyalahkan saya karena saya sudah langsung merujuk ke RSUD dan melakukan tindakan yang benar di Puskesmas. Hanya saja saya semakin menyadari bahwa belajar di kedokteran itu tidak ada habisnya.. Selain dari teori yang kita pelajari, kita juga tiap hari harus belajar dari pengalaman kita dan berusaha untuk menjadi lebih baik melalui pengalaman..

"Pengalaman adalah guru yang berharga"

No comments:

Post a Comment